Senin, 27 Februari 2012
kesaksian hidup untuk yang tercinta
Dia bukanlah manusia terhebat. Dia melangkah jauh karena tekat yang tinggi, meski ia tahu dunianya kadang tak adil kepadanya. Setiap harinya, ia berjalan melintasi waktu, menelusuri setiap jejak, menjajaki setiap peristiwa yang tak begitu asing bagi pandangannya. Kadang ia merangkak di setiap jalanannya, tersungkur ke dalam lubang, yang tak tentu tesktur tanah yang di pijakinya. Ia terkadang mengeluh, meratap, putus asa, dan cenderung ingin memberontak dalam liku kehidupannya. Namun ternyata, cinta yang ia dapatkan dari sesuatu yang tak dapat terlukiskan, membuatnya percaya. Cinta yang ia dapatkan itu,senantiasa akan menghiburnya dalam setiap penak,kegelisahannya, keputus asaanya. Dengan cinta itu, ia mampu bangkit dan berlari menuju jalan yang dulu ia kehendaki. Sumber kekuatan itu adalah Cinta Nya kepada TUHANnya dan kepada OrangTuaNya. Tak ada yang salah dalam hidupnya. Namun ada sesuatu yang berbeda darinya yang membuatku sakit bercampur sedih. Cita –cita yang di inginkannya ia pertaruhkan demi Cinta yang telah ia tentukan. Apapun yang di lakukannya, selalu ia terbayang sosok Cinta nya. Hingga hidupnya terasa bermakna.
Dalam kesehariannya. Ia memiliki fatner atau rekan. Dia berkarakter putih hitam, kostum itu pas terpasang dalam perannya setiap hari, teman yang ia saluti memiliki karakter Merah. Ibarat power Ranger ia kadang menjadi pesaing Ranger merah. Teman yang kadang menghiburnya adalah Ranger kuning, hijau dan kuning. Karakter yang hampir sama.
Kadang ia di juluki penghianat. Yang selalu ingin berjalan sendiri. Namun itulah dia. Di saat teman-temanya kesulitan ia selalu menolong pas pada waktunya. Kini ku telah memiliki nama untuknya. Ranger putih. Seorang pahlawan dari anggota Ranger lainnya. Kebiasaanya ia sering menyendiri.
Aku tak kenal jauh tentang karakternya, namun aku menyukainya dan menyayanginya. Sikapnya yang kadang diam membuat musuhnya tertipu. Kadang ia mampu berlaku polos di hadapan lainnya namun di sisi lain ia sangat cerdas mengahadapi musuh-musuhnya. Itulah dia.
Aku selalu memperhatikan setiap bidikan matanya, memandang seluruh penjuru alam yang di liriknya. Ia tak ingin merasa hebat di antara lainnya, namun aku sangat senang atas ke akrabannya kepada siapa saja. Kadang pula ia sering sekali murung, menyendiri dalam bayangannya. Seakan matanya menyiratkan sesuatu yang mendalam. Entah itu apa. Aku tak tahu...
Ada suatu waktu ku mencoba mendekatinya, memandangnya dari jarak berpadu, kadang kupandang dia jauh, kadang pula aku ingin melihatnya lebih dekat. Tapi ia menghindar...dari seluruh sihir mataku. Menjauh dari dramatisir kehidupan saat itu.
Aku semakin heran padanya. Ingin ku mengenalnya lebih dekat, dekat dan terasa ingin menyapanya. Namun sayang...ia takut kehadiranku. Apakah ia menganggap, diriku akan menyakitinya, ataukah aku di anggapnya godaan, cobaan yang akan berakhir dengan kesisksaan? Sungguh tidak. Aku hanya ingin menggandengnya, berjalan seiring dengannya dan merangkulnya, ku jadikan teman baikku.
Tapi. Ia tetap juga menghindar. Jauh dariku. Binar matanya saat ku mendekat, terasa dingin. Namun ku semakin ingin mengenalnya. Namun suatu waktu, dia mulai terbuka..
Ternyata dirinya itu. Ada dalam diriku. Yang bisa ku temui saat tatapanku saling berpadu di atas cahaya cermin di pagi hari. Saat diriku berdiri mempersiapkan diri menjalani waktu.
Aku hanya punya harapan,memiliki impian di atas secarik kertas yang ku tempel di atas papan infoku. Memang setiap hari jadwalku terjadwal. Agar ku bisa meraihnya semaksimal mungkin. Dan ku akui, tak ada seorang lelaki yang bisa menjadi kawanku saat berjalan. Aku lakukan semua kegiatan tanpa panduan seorang lelaki. Bagiku seorang “pacar” tak begitu mendesak untukku saat ini. Target hidupku sekarang adalah membahagiakan orang yang ku sayangi “IBU DAN AYAHKU’ ku memiliki impian menjadikan mereka seorang haji mabrur dan membukakan usaha untuk hari tua mereka dengan rumah sederhana untuk mereka. Dan aku berjanji..semuanya akan ku lukis dalam hidupku, dan berusaha meniti kehidupan dengan kasih sayang untuk mereka. Sebab begitu juga kasih sayang yang sama ku dapatkan saat ku belajar dan berhasil.
Aku menantikan bulan ke 6. Bulan terakhir ku menjadi seorang mahasiswi. Aku harap di bulan itu aku akan menjadi wisuda pertama dalam keluargaku. Dan tentunya kebahagiaan untuk keluargaku, walaupun hal itu baru langkah pertamaku untuk bahagiakan orang tuaku.
Masih teringat…
Jika ku lukis kembali awal mulanya aku di berikan kesempatan menuntut ilmu. Saat umurku masih belia. Kehidupanku bercukupan. Dulu Ayah pernah bekerja di Bakaru sebagai Kondektur bangunan. Itu belum seberapa. Seandainya Ayah dahulu di berikan biaya untuk kuliah. Pasti dan ku yakin Ayah telah menjadi seorang PNS (pegawai Negeri Sipil). Tapi seakan takdir berkata lain. Ayah harus merelakan keinginannya berkuliah. Sebab saudaranya yang lain tidak setuju. Malah Ayah harus di suruh bekerja untuk memenuhi kebutuhan saudaranya. Banting tulang mencari nafkah menggantikan pekerjaan kakek Binawa. Ayah tak ingin hanya kakek yang mencari nafkah. Sungguh ironis. Ayah di larang melanjutkan pendidikannya, sedang adik dan kakak Ayah memohon- mohon untuk di sekolahkan. Dengan menyuruh Ayah bekerja untuk mereka. Teganya mereka.
Itulah yang membuatku tetap gigih belajar, menuntut ilmu dan antusias ingin berprestasi. Niatku bukan untuk kepentingan atau egoku. Namun hanya untuk satu kata “cinta”. Aku sangat bersyukur aku terlahir di antara mereka. Orang-orang yang ku sayangi masih bisa mengharapkan ku berhasil. Meski prestasi yang ku ukir belum sepenuhnya maksimal. Malah bagiku hanya sedikit yang baru ku raih untuk kebahagiaan mereka. Cinta dan kasih sayang yang mereka titipkan padaku membuatku tegar dan kuat untuk mencapai cita-citaku. Itulah yang berakar kuat dalam jiwaku.
Memang masalah tidak selamanya akan membeku, menjadi kristal es yang keras.namun suatu saat, perlahan-lahan akan segera mencair bahkan meleleh, asalkan kita senang tiasa membakarnya dengan kobar api semangat optimis dan ruang ketabahan.
Kisah hidup yang telah terlewati telah membuat banyak goresan, luka, kekecewaan, kesedihan, bahkan keputus asaan. Namun setelah adanya goresan pengalaman itu, ternyata aku bisa melukis suatu cerita, pengalaman bahkan berkah di baliknya.
Pernah perasaan luka sebab goresan itu membuat hati dan jiwaku seakan ingin hilang dan lenyap akibat selalu mengeluhkan sakitnya. Lambat laun, ku mulai mengerti setiap detiknya.
Sejak ku berumur 10 tahun. Aku seakan telah di tawarkan kampas dan tinta untuk mengukir hidupku. Dimasa itu ku rasakan keceriaan, kesenangan tanpa ada nokta hitam yang menghalang.
Sedikit menerawang. Di masa itu, aku belum di berikan bimbingan ilmu jiwa. Belajar tentang beribadah sholat, mengaji, puasa, dan hal-hal yang sudah harus ku ketahui. Ayah memang seorang pemimpin, namun karena pekerjaannya mencari nafkah sekan melupakan memberikan kami ilmu tentang agama. Aku tahu, bukan salah Ayah sepenuhnya. Kadang masa puber membuatku mulai membuatku menjadi sosok pembangkan di mata mereka. Semua, dan segala sesuatu yang tidak mereka berikan padaku, akan menjadi musibah untuk mereka. Aku tidak akan pulang ke rumah sebelum mereka mengabulkannya... gila, betul- betul gila. Jika mengingat memorial itu.
Memang saat itu. aku masih menempati posisi yang penting dalam keluargaku. Satu-satunya anak perempuan dari lima bersaudara. Ayah dan Ibu sangat menyayangiku. Aku pun besar kepala ke semua saudaraku.
Waktu demi waktu berlalu secepat angin. Aku telah tumbuh menjadi gadis remaja. Memasuki sekolah menengah pertama kelas satu. Aku merasa bahagia plus harus bersedih. Tapi aku tak meratapinya berlama-lama sebab kebahagian yang ku dapat lebih banyak dari kesedihan yang tengah ku pikirkan. Kebahagian pertama, aku telah menjadi siswa baru di sekolah yang terkenal di kabupaten ku. Kedua, aku di beri kan saudara perempuan yang cantik dan sangat ku harapkan dari dahulu. Adik kecilku, bungsu ku adalah permohonan ku pada tuhan. Agar ku diberikan adik perempuan, dan ALLAh mengabulkan Doaku. Subhanallah.
Ke syukuran yang terus ku ungkapkan pada semua teman sekelasku. Dan hanya sebagian kecil yang menanggapinya baik. “kamu tidak akan di sayang lagi sukma, sudah ada yang menggantikan posisimu di hati ke dua orang tuamu” kata- kata pedas dan tajam menusuk ku bertubi-tubi. Namun perkataan mereka telah berlalu sekencang angin kemarau di panasnya langit. Ke bahagiaan yang kurasa seakan tak menggoyahkan kesyukuranku Pada-NYA. Hilang segala risau dan kegundahan.
Saat itu, Ayah memilki pekerjaan yang layak sebagai sopir mobil angkuatn umum, pekerjaan yang bisa menafkahi kami dan menyekolahkanku. Tak pernah terbayangkan kedatangan adikku Reski memberikan limpahan nikmat yang yang tak terhingga bagi keluarga kami. Berlalunya masa. Ayah bisa memilki mobil sendiri bernilai 10 juta. Inisiatif Ayah membeli mobil sendiri supaya bisa memaksimalkan pendapatan untuk hidup sehari-hari. Dan tidak lagi menyusahkan orang lain.
Hal lain yang membuat Ayah menabung membeli mobil karena saat menyewa mobil orang lain, Ayah pernah di fitnah menyelewengkan uang setoran. Padahal aku sendiri yakin, itu hanyalah trik supaya ayah tidak mendapat pekerjaan dan otomatis ia memberhentikan ayah dari pekerjaan nya. Bagi Ayah bukanlah masalah sulit untuk mencari pekerjaan lain. Ayah tak ada niat atau keinginan memaki atau membela dirinya di depan orang lain. Malah ayah sering di rendahkan, di remehkan, bahkan sering di bodoh- bodohi sesama sopir. Sangat miris kehidupan Ayahku namun ia masih tetap sabar.
Ayah ku yang dulu masih seperti yang sekarang. Meski telah memiliki mobil sendiri, ia tak pernah merasa sendiri. Ayah terkenal sebagai orang yang care, ramah terhadap semua orang termasuk kepada penumpangnya. Ia juga tak pernah merasa bangga tentang apa yang di milikinya, meski telah memilki mobil sendiri. Ayah tak pernah berbangga diri, atau merasa kecewa terhadap orang yang pernah menyakiti atau mengolok-oloknya. Malah aku yang merasa panas jika seseorang mengolok-olok Ayah...
Memang bagi Ayah, mobil hitam sekarang yang di miliki bukan mobil mewah atau bermerek baru. Tapi bagi kami memilki mobil adalah barang termewah yang di miliki setelah televisi. Ayah Bukan seorang pemilkir yang hebat untuk masalah keuangan. Kondisi rumah kami yang berdinding kayu jati berukuran 4 X 5 yang membuat Ayah harus menyesuaikan tempat. Bagi Ayah rumah itu adalah peninggalan sekaligus pemberian dari kakek Pasah yang dulu tinggal di Taboe (salah satu desa terpencil di kec. Tanete Rilau dusun Maddo). Bermodelkan rumah Ala kalimantan kami hidup tenang di Rumah mungil itu. Adik mungilku Reski juga terlahir di sana.
Jika ku menarik memori masa lalu itu. Akan terasa tetesan hangat bening mengalir perlahan di mata hingga ke pipiku. Sedih yang teringat dahulu, takkan terbayangkan akan terlewati penuh haru.
Aku juga masih mengingat dengan jelas. Perjalanan dan lika-liku kehidupan yang penuh warna kadang suka dan duka silih berganti. Berkah itu terhitung bersama banyaknya kesedihan. Sejak berhasil menempuh SMP, ada keinginan untuk mencoba melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. SMA Negeri 1 BARRU membuatku .....
Tahun pertama memasuki sekolah itu. aku berharap akan menjadi salah satu bagian dari dalamnya.
Namun... niat itu seakan menghalangiku melangkah lebih jauh. Biaya yang harus ku korbankan, tak sebanding dengan jumlah pendapatan Ayah sebagai supir angkutan umum. Ke inginan itu...
Membuatku bertanya...
Lembaran kisahku takkan bisa membawaku ke singgasana itu
Senyum-senyum yang aku kandung harus ku lahirkan dengan butiran air mata
Jiwa ddan raga telah mengalung, membayangi setiap jejak langkah dengan...
Nada-nada harapan...
Akankah nyanyian itu tersampaikan ke dalam jiwa sang penguasa di sana?
Mungkin iya, namun hanya sedikit yang berbunyi.
Aku ingin...aku harap... kata tidak kan lenyap di Angkasa.
Keinginan itu sempat ku utarakan ke Ayah dan Ibu,,, kata iya sangatlah sulit ku temui. Aku juga tak ingin memaksakan keinginanku pada mereka. Karena ku tahu mereka akan terbebani dengan pilihanku itu.
Berjuta doa telah ku kumandangkan pada setiap sujudku. Hanya untuk berharap satu harapan agar bisa masuk ke SMA. Aku hanya berharap takdir dan ke ajaiban.
“jika aku melanjutkannya, itu akan membuat ayah harus bekerja lebih keras lagi, sedang biaya untuk makan masih sangat jauh dari biaya untuk masuk ke SMA”. Jadi batalkan saja.
Langkahku terhenti berlinang air mata saat ku ketahui aku lulus murni masuk ke SMA 1 BARRU. Puluhan bahkan ratusan telah gugur untuk masuk ke sekolah itu. apa aku harus berhenti?.
Ayah dan ibu mencoba mengambil langkah mencoba menjual kayu jati di kebun kakek di Tokkene (suatu daerah terpencil di Tanete riaja desa Gading). Kayu itu di sulap bagai jembatanku untuk menyebrang masuk ke SMA 1 BARRU. Sekolah favorite se kabupaten.
Satu pekerjaan yang tak pernah terlupakan sewaktu di SMA. Aku melayani teman- teman mengantar makanan ke ruangan. Biasanya sisanya di berikan sebagai upah pulang balik dari kantin. Teman- teman dekatku lebih banyak memberiku makanan dan mengajak makan bersama mereka. Soal menyiasati pembelian LKS, aku lebih banyak menulis. Jadi setiap LKS yang wajib di beli namun di perbolehkan di tulis menjadi peluangku untuk menghemat biaya.
Satu ke syukuran yang ku dapat yaitu. Saat pulang, ayah menjemputku di gerbang sekolah. Sambil menunggu teman-teman yang juga ingin pulang. Kadang ayah akan mengantar mereka ke depan rumah mereka tanpa perlu berjalan jauh. Ayah akan mengantar mereka ke Maddo, ke Lipukasi, ke sumpang, dan daerah yang berlorong-lorong. Itu juga akan menghemat biaya jalan mereka untuk satu kali mengantar.
Setelah pulang. Aktivitas yang kulakukan hanya membantu orangtua di dapur. Atau membantu ayah mengangkat barang yang di antar kan masing-masing. Sering pula ayah harus pulang larut malam. di tengah dinginnya yang menusuk tulang, ayahku tak pernah mengeluh. Ayah.
Mungkin tuhan telah lama mengatur sesuatu yang indah untukku, setelah sekian lama tangis itu mengalung dari luar dan dalam jiwaku. Aku hanya bisa menunggu hal itu datang.
Itulah ke bahagian kedua yang kudapat setelah kelahiran adikku. Aku di terima di SMA itu. tapi yang menjadi masalah tetap pada klasiknya. Uang. Hal yang paling menyulitkan bagiku dalam kehidupan ini...
Meski segalanya terasa sulit, namun selalu ada jalan untuk menyelesaikannya. Aku kadang sering menyendiri mencari sebab dan akibat yang terjadi dalam hidupku ini. Aku berusaha mencari sendiri bagaimana orang bisa bahagia meski selalu di rundung kemiskinan. Uang Sumber masalah penghidupan. Tapi bagi sebagian orang, bukanlah sesuatu penghalang. Mereka bisa menjalani kehidupan dengan tentram dan bahagia.
Aku menjejaki setiap makna. Mengapa hanya beragama islam yang, sholat dan mengaji ? dan apa makna memakai jilbab? Mengapa ada yang tidak memakainya? Mengapa sholat harus lima waktu, mengapa masih ada yang tidak puasa saat bulan puasa?mengapa, mengapa, dan mengapa. Pertanyaan itu muncul berkali-kali di saat ku tak mengetahui seluruh jawabannya.
Hingga ku di izinkan menjejaki langkah ke Perguruan Tinggi UNIVERSITAS HASANUDDIN. Tak ada yang percaya, tetangga hingga kerabat menggelengkan kepala saat mereka bertanya pada emakku tempatku kuliah. Bagi orang tuaku, hal ini salah satu ke syukuran. Akhirnya ku jejaki dan ku telusuri iman dan keyakinan yang ku miliki. Satu kalimat yang begitu menyentuh saat pertama kalinya ku mengikuti salah satu majelis taklim di MUSHOLAH AL_ADAB “ kita yang berkumpul di sini adalah salah satu umat yang selalu bersyukur. Ke syukuran kita yang paling indah yaitu kita hidup dalam ngenggam hidayah. nikmat islam. Masih banyak saudara kita di luar sana belum di limpahkan hidayah islam”. Memang hidup, dan kisah perjalananku belum memahami hidayah itu se utuhnya. Kan ku genggam hidayah ini erat-erat selamanya.
Makassar impian ,31 januari 2012
Langganan:
Postingan (Atom)